Real Time

Welcome to my personal website:"pojokilmu.net". Informasi Akurat Seputar Pendidikan, Pembelajaran dan Akuntansi....!!!!

Kamis, 13 Agustus 2026

Buku Besar Pembantu Piutang

Oleh: Winarto
Dalam sistem akuntansi perusahaan dagang maupun jasa skala menengah hingga besar, pencatatan transaksi piutang di Buku Besar Utama (General Ledger) hanya menyajikan nilai piutang secara akumulatif melalui akun Piutang Dagang (Accounts Receivable). Untuk mengetahui secara pasti kepada siapa saja tagihan tersebut berada dan berapa besarnya saldo tagihan untuk masing-masing pelanggan, perusahaan membutuhkan buku pencatatan tambahan yang dinamakan Buku Besar Pembantu Piutang (Accounts Receivable Subsidiary Ledger).
Buku besar pembantu piutang (Accounts Receivable Subsidiary Ledger) adalah catatan akuntansi yang berisi rincian mutasi dan saldo piutang perusahaan kepada masing-masing debitur/pelanggan secara individual. Buku besar pembantu ini merupakan penjabaran lebih rinci dari akun "Piutang Dagang" (Piutang Usaha) yang ada di buku besar umum (general ledger). Akun Piutang Dagang di buku besar umum berperan sebagai akun kontrol (controlling account), karena saldonya harus selalu sama dengan total keseluruhan saldo semua kartu/buku besar pembantu piutang.

Fungsi Buku Besar Pembantu Piutang

No

Fungsi

Penjelasan

1

Merinci saldo piutang per debitur

Menyajikan informasi berapa besar piutang perusahaan kepada masing-masing pelanggan secara terpisah

2

Alat kontrol/ pengecekan (cross check)

Total saldo seluruh kartu piutang harus sama dengan saldo akun Piutang Dagang di buku besar umum

3

Dasar penagihan piutang

Membantu bagian keuangan mengetahui kepada siapa dan berapa jumlah yang harus ditagih, serta kapan jatuh temponya

4

Menghindari kesalahan pencatatan

Karena dicatat per debitur, kesalahan lebih mudah dilacak dan diperbaiki

5

Dasar penyusunan laporan piutang

Digunakan untuk menyusun daftar/laporan saldo piutang (Accounts Receivable Aging/Trial Balance of Debtors)

6

Mendukung pengambilan keputusan

Manajemen dapat memantau kondisi likuiditas, risiko piutang tak tertagih, dan kebijakan kredit terhadap tiap pelanggan

7

Dasar pencadangan kerugian piutang

Membantu menghitung estimasi piutang tak tertagih (bad debt) berdasarkan umur piutang tiap debitur


Bagaimana aturan dasar pencatannya? Perhatikan point penting berikut ini
  1. Debit → menambah piutang (misalnya saat penjualan kredit)
  2. Kredit → mengurangi piutang (misalnya saat pelunasan dari pelanggan, retur penjualan, atau penghapusan piutang)
Perhatikan bahwa posisi debit-kredit pada kartu piutang berkebalikan dengan kartu utang, karena piutang bersifat aktiva (aset) yang normalnya bersaldo debit, sedangkan utang bersifat kewajiban yang normalnya bersaldo kredit.

Entry Data Ke Buku Pembantu Piutang
Melakukan entry data saldo awal pada Buku Besar Pembantu Piutang (Accounts Receivable Subsidiary Ledger) pada prinsipnya adalah kebalikan dari buku besar pembantu utang.
Karena Piutang Dagang merupakan akun Aset, maka ia memiliki saldo normal Debit. Oleh karena itu, saldo awal piutang dari para pelanggan (customer) harus dicatat di kolom Debit. Buku ini berfungsi untuk merinci berapa banyak uang yang harus ditagih dari masing-masing customer.
Berikut adalah penjelasan langkah-langkah dan contohnya.
Langkah-Langkah Entry Saldo Awal Piutang
1. Pengumpulan Data (Aging Schedule): Kumpulkan data rincian piutang dari masing-masing pelanggan per tanggal neraca (misalnya per 31 Desember tahun sebelumnya). Data ini biasanya diambil dari faktur-faktur penjualan kredit yang belum dibayar oleh pelanggan. Pastikan juga data neraca saldo juga sudah siap.
2. Pembuatan Akun Pembantu: Buat kartu akun atau halaman terpisah di dalam sistem/buku besar pembantu untuk setiap nama pelanggan (customer).
3. Pencatatan Saldo Awal:
  • Isi kolom Tanggal dengan tanggal pertama periode akuntansi baru (misal: 1 Januari).
  • Isi kolom Keterangan dengan "Saldo Awal".
  • Isi Kolom “Ref” Dengan Nomor Bukti Faktur
  • Masukkan nilai piutang pada kolom Debit.
  • Kolom Saldo akan otomatis terisi dengan nilai yang sama dan diberi tanda (D) untuk Debit.
4. Rekonsiliasi: Jumlahkan seluruh saldo awal dari semua pelanggan di buku besar pembantu. Total tersebut harus sama persis dengan saldo akun "Piutang Dagang" di Buku Besar Utama (General Ledger).

Contoh Kasus
PT Elektronik Nusantara akan memulai pencatatan di sistem akuntansi baru per 1 Januari 2026. Berdasarkan rekonsiliasi faktur yang belum lunas pada 31 Desember 2025, perusahaan memiliki piutang dari 3 pelanggan (customer) berikut
  • Toko Sejahtera : Rp 6.000.000,- No. FPj12-04. Tanggal 28 Desember 2025
  • CV Maju Jaya : Rp 5.500.000,- No FPj12-07. Tanggal 23 Desember 2025
  • UD Sentosa : Rp 7.250.000,- No FPj12-12 . Tanggal 29 Desember 2025
Total Piutang Dagang = Rp 18.750.000
Berikut adalah cara melakukan entry pada Buku Besar Pembantu Piutang untuk masing-masing customer:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Psikologi

Tantangan Bisnis di Era Modern

Oleh: Winarto Bisnis adalah suatu kegiatan yang dilakukan individu atau sekelompok orang untuk menghasilkan keuntungan dengan cara menyedi...