Meskipun keduanya sama-sama berfokus pada penciptaan lingkungan sekolah yang aman bagi murid, TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) dan BSAN (Budaya Sekolah Aman dan Nyaman) memiliki perbedaan mendasar dari segi regulasi, pendekatan, dan struktur kerjanya. Seiring diterbitkannya aturan terbaru melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, kebijakan penanganan kekerasan di sekolah mengalami transisi besar di mana peran TPPK kini ditiadakan dan dilebur ke dalam ekosistem BSAN.
1. Pergeseran Status dan Dasar Hukum
- TPPK: Dibentuk di bawah aturan lama (2023) sebagai langkah taktis merespons tingginya angka perundungan dan kekerasan di sekolah pada saat itu.
- BSAN: Hadir sebagai penyempurnaan menyeluruh melalui Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026. Dengan berlakunya BSAN, aturan mengenai pembentukan TPPK di sekolah dan Satgas di tingkat daerah resmi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
2. Ruang Lingkup Perlindungan dan Pendekatan
- TPPK bekerja dengan fokus utama merespons ketika terjadi tindakan pelanggaran atau kekerasan spesifik di lingkungan sekolah.
- BSAN memiliki ruang lingkup perlindungan yang jauh lebih luas dan bersifat holistik. Kebijakan ini menekankan bahwa sekolah aman bukan hanya karena "tidak ada tawuran atau bullying", melainkan karena terbentuknya ekosistem yang mendukung kesejahteraan psikologis murid, menghargai keberagaman sosiokultural, memenuhi kebutuhan spiritual, hingga menjaga keamanan dan etika di ruang digital (seperti mengantisipasi cyberbullying dan kebocoran data pribadi murid).
3. Ekosistem Pelaksana di Sekolah
- Pada masa TPPK, tanggung jawab pencegahan kekerasan dibebankan secara spesifik kepada sekelompok orang pilihan di sekolah (perwakilan guru, komite, dan orang tua) yang tergabung dalam tim tersebut.
- Pada sistem BSAN, pembentukan tim penanganan khusus yang terpisah di internal sekolah ditiadakan agar penanganan tidak berjalan secara eksklusif. Sebagai gantinya, penanganan pelanggaran dilakukan secara kolaboratif. Di tingkat wilayah, pemantauan didukung oleh Pokja BSAN (Kelompok Kerja) tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota, sementara di tingkat sekolah, seluruh warga sekolah (kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, murid, orang tua, hingga elemen masyarakat) diwajibkan terlibat aktif membangun budaya positif sehari-hari.
BSAN tidak hanya melihat keamanan dari sisi fisik semata, melainkan mencakup 4 dimensi kesejahteraan warga sekolah secara holistik:
- Dimensi Psikologis (Well-being): Menjamin lingkungan belajar bebas dari tekanan mental, kecemasan, intimidasi, dan labeling. Fokusnya adalah membangun kesehatan mental yang positif bagi murid maupun pendidik.
- Dimensi Sosiokultural (Inklusivitas): Memastikan adanya penghormatan penuh terhadap keberagaman suku, ras, agama, gender, dan status sosial ekonomi, serta menjamin pemenuhan hak bagi murid penyandang disabilitas (sekolah ramah inklusi).
- Dimensi Spiritual: Menjamin kemerdekaan bagi seluruh warga sekolah untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dalam suasana yang rukun, damai, dan penuh toleransi tanpa adanya pemaksaan.
- Dimensi Keamanan Digital: Melindungi warga sekolah dari ancaman di ruang maya, seperti perundungan siber (cyberbullying), paparan pornografi, judi online, hingga pelindungan data pribadi murid dan guru dari kebocoran.
Strategi operasional dalam BSAN berjalan secara berkesinambungan melalui tiga tahapan kerja:
- Tindakan Promotif: Kampanye budaya positif, pembiasaan salam, literasi digital, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila secara konsisten.
- Tindakan Preventif: Menyediakan kanal pengaduan yang aman/anonim, melakukan survei berkala terkait iklim sekolah, serta memetakan area rawan di sekolah.
- Tindakan Responsif: Jika terjadi pelanggaran, penanganan dilakukan secara cepat melalui kolaborasi kepala sekolah, guru bimbingan konseling (BK), orang tua, hingga Pokja BSAN daerah, dengan mengutamakan prinsip keadilan restoratif (restorative justice) dan pemulihan psikologis korban.
Intinya: TPPK adalah sebuah tim kerja khusus yang dulu dibentuk untuk mengatasi kasus kekerasan secara langsung, sedangkan BSAN adalah sistem dan gerakan budaya menyeluruh yang menggantikannya demi menciptakan lingkungan belajar yang jauh lebih ideal, humanis, dan protektif bagi semua warga sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar